Fakta Dibalik Kisah Fir’aun Sang Raja Mesir

Share
fakta dibalik kisah fir'aun

Sejak kecil kita pasti sudah sering mendengar berbagai kisah tentang nabi dan kemungkaran Fir’aun terhadap Mukjizat dan ajaran kebenaran yang di sampaikan oleh nabi pada masa itu. namun perlu diketahui bahwa cerita itu bukanlah dongeng semata, melainkan benar adanya, dan kini sudah terdapat berbagai fakta dibalik kisah fir’aun yang sering kita dengarkan ceritanya saat kecil telah di teliti oleh para ilmuan di dunia. dan kini para ilmuan telah menemukan beberapa fakta dibalik kisah fir’aun sang raja mesir. apa sajakah fakta – fakta dibalik kisah fir’aun sang raja mesir ini ?.
Berikut adalah fakta dibalik kisah Fir’aun :

Dikisahkan bahwa setelah mendapatkan wahyu dan mukjizat dari Allah Swt., Nabi Musa As. Berangkat ke Mesir dengan ditemani saudaranya, harun As. Sesampainya di Mesir, ia langsung mendatangi Fir’aun dan mengajaknya untuk menyembah Allah Swt. Akan tetapi, ajakan yang mulia itu ditolak mentah-mentah oleh Fir’aun. Fir’aun menganggap nabi Musa As. Sebagai pembual. Karena kalah berdebat dengan Nabi Musa As, Fir’aun pun memanggil para tukang sihirnya dari seluruh Mesir untuk memadingi mukjizat Nabi Musa As. Namun, tidak ada yang mampu menandingi mukjizat Nabi Musa As.

Sejak peristiwa itu, Fir’aun tetap dengan kesombongan dan keangkuhannya. Berkali-kali mukjizat Nabi Musa As, diperlihatkan untuk menunjukan kekuasaan Allah Swt., namun tak kunjung membuka hati Fir’aun. Bahkan, setelah itu, penindasan yang dilakukan Fir’aun terhadap kaum Nabi Musa As, semakin menjadi – jadi.

Akhirnya, setelah mendapat petunjuk dari Allah Swt. Nabi Musa As, membawa kaumnya, Bani Israil, meninggalkan Mesir. Namun, Fir’aun tidak membiarkan mereka pergi begitu saja, Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa As. Akhirnya, mereka pun tiba di tepi Laut Merah pada waktu fajar, setelah semalaman melewati padang pasir yang luas.

Rombongan Nabi Musa As, dilanda kecemasan, langkah mereka terhalang Laut merah, sedangkan Fir’aun dan tentaranya masih terus mengejar. Di tengah kebingungan itu, Nabi Musa As. Mendapatkan perintah dari Allah Swt. Untuk memukul tongkatnya ke lautan. Dengan kuasa-Nya, laut yang begitu luas itu terbelah sehingga Nabi Musa As. Beserta rombongan bisa melintasi lautan dan lari dari kejaran Fir’aun.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam al Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt, berikut :

فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.(QS. Asy-Syu’araa’ [26] : 63).

Sesampainya di seberang lautan, Nabi Musa As. Memukulkan kembali tongkatnya sehingga lautan menutup seperti semula,dan tenggelamlah Fir’aun beserta pasukannya. Sebelum nyawanya melayang, Fir’aun sempat menyatakan bahwa dirinya percaya kepada ajaran Nabi Musa As. Dan beriman kepada Allah Swt. Tetapi, pengakuan itu terlambat, Ia pun tenggelam di laut merah bersama pasukannya.

Allah Swt. Mengabdikan kisah keangkuhan kesombongan Fir’aun. Beberapa abad setelah peristiwa tersebut, jasad Fir’aun berhasil ditemukan. Sungguh mengejutkan! Jasad Fir’aun masih utuh setelah tenggelam di lautan, sedangkan jasad pasukannya yang turut tenggelam tidak ditemukan sama sekali. Jasad Fir’aun ditemukan pada tahun 1898 oleh seorang purbakala bernama Loret, dalam bentuk mumi di Wadi al-Muluk (Lembah Para Raja) yang berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang Sungai Nil, Mesir. Saat ini, jasad tersebut bisa disaksikan di museum nasional Mesir yang berada dikota Kairo.

Allah Swt. Berfirman :

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami. (QS. Yunus [10] : 92).

Sejauh ini, telah banyak studi dilakukan oleh para ahli untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya Fir’aun yang sedang berkuasa saat peristiwa keluarnya Nabi Musa As. Beserta Bani Israel dari tanah Mesir. Dari sekian banyak Fir’aun, nama Ramses II dianggap yang paling tepat sebagai Fir’aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia adalah Fir’aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradapan Mesir Kuno. Ia juga merupakan salah satu Fir’aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun.

Terkait jasad Fir’aun tersebut, pada pertengahan tahun 1975, pemerintah Prancis menawarkan bantuan kepada pemerintah Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Fir’aun tawaran itu diterima dengan baik oleh pemerintah Mesir. Lalu, mumi Fir’aun dibawa ke Prancis. Bahkan, pihak Princes membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Fir’aun dengan pesta yang sangat meriah.

Selanjutnya, mumi tersebut dibawa ke ruang khusus di pusat purbakala Prancis. Setelah itu, dikalukan penelitian sekaligus ungkap rahasia dibalik fenomena tersebut. Para peneliti terdiri dari para ilmuan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi tersebut ialah Prof. Dr. Maurice Bucaille.

Maurice Bucaille adalah ahli bedah kenamaan asal Prancis yang pernah  menjabat sebagai kepala klinik bedah di Universitas Paris. Pria kelahiran Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920 ini, memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroentorology. Namanya mulai populer ketika ia menulis buku tentang Bibel, Al Qur’an, dan pengetahuan modern (La Bible, le Coran et la Sience) pada tahun 1976.

Sebenarnya, ia bukanlah orang yang asing di dunia arab. Ia pernah ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dan Arab Saudi  pada 1973. ia juga pernah menjadi dokter anggota keluarga presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat. Ketertarikan Bucaillie terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari dan menganalisis mumi Fir’aun, ia sangat senang dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir Kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir dari penelitian yang diperoleh Bucaille sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi merupakan bukti kuat bahwa mumi itu telah mati karena tenggelam. Namun, penemuan Bubaille ini menyisakan sebuah pertanyaa besar. Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jazad-jasad yang lain (tengkorak bala tentara Fir’aun), padahal telah dikeluarkan dari laut?.

Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat fir’aun dari laut dan pengawetannya. Laporan ini diterbitkan dengan judul Les Momies des Pharaons et la midecine (Mumi Fir’aun; Sebuah Penelitian Medis Modern). Berkat buku ini, ia menerima penghargaan “Le prix Dianr-Potier-Boes” (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Prantaise dan Prix General (penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicene, Prancis.

Terkait dengan akhir penelitian yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikan sesuatu di telinganya, “jangan tergesa-gesa. Sesungguhnya kaum muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”

Awalnya, ia mengingkari ucapan rekannya itu. Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui, kecuali dengan ilmu pengetahuan modern, serta menggunakan peralatan canggih mutakhir dan akurat. Hingga kemudian, salah seorang diantara mereka bahwa al-Qur’an yang diyakini umat Islam telah menginformasikan kisah tenggelamnya Fir’aun dan mayatnya diselamatkan.

Informasi tersebut semakin membingungkannya. Ia berpikir dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sedangkan al Quran telah ada ribuan tahun sebelumnya. Semalaman ia duduk rekannya masih terngiang-ngiang, bahwa al-Qur’an telah menuturkan kisah fir’aun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun silam.

Sementara iitu, sepengetahuan Bucaille, kitab suci agama lain hanya membicarakan tenggelamnya fir’aun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan sama sekali tidak membicarakan tentang mayat fir’aun. Ia pun semakin bingung.

Kepada dirinya sendiri, ia bertanya, “apakah masuk akal mumi di depanku adalah fir’aun yang akan menagkap musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum al Qur’an diturunkan?”

Ia tidak nyenyak tidur karena dihantui beragam pertanyaan. Akhirnya, ia meminta kitab taurat (perjanjian Lama). ia pun membaca Taurat yang menceritakan, “air pun kembali (seperti semula) menutupi kereta, pasukan berkuda dan seluruh tentara fir’aun yang masuk ke dalam laut dibelakag mereka, tidak tertinggal satupun diantara mereka”.

Kemudian ia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil pun tidak membicarakan tentang peristiwa diselamatkannya jasad fir’aun dan masih tetap utuh. Karena itu ia semakin bingung.

Setelah perbaikan dan pemumian mayat fir’aun selesai dilakukan. Pemerintah Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada sesuatu yang menggembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapat temuan dan kabar dari rekannya terkait informasi yang disampaikan al Qur’an yakni kabar bahwa umat Islam telah saling mengetahui tentang diselamatkannya mayat tersebut. Lantas, ia pun memutuskan untuk menemui sejumlah Ilmuan otopsi dari umat Islam.

Setelah itu, terjadilah perbincangan untuk yang pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuan muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa. Perbuatan yang dilakukan fir’aun, pengejarannya kepada Musa hingga fir’aun tenggelam, dan tentang jasad fir’aun yang diselamatkan.

Maka, berdirilah salah satu diantara ilmuan muslim tersebut seraya membuka mushaf Quran dan membaca firman Allah Swt. QS. Yunus [10]: 92. ayat tersebut sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri dihadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang, “sungguh, aku masuk islam dan aku beriman kepada Al-Quran.”

Setelah itu ia kembali ke Prancis dengan raut muka yang bercahaya. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan al Qur’an, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicaraka kitab suci ini. Semua hasil penelitian yang di lakukannya kemudian dibukukan dengan judul Bibel, Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern (La Bible , le Coran, et la Sience). Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best seller internasional di dunia muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa terutama umat islam di dunia.

Demikian lah kisah tenggelamnya fir’aun dilaut merah yang berhasil dibuktikan secara ilmiah. Tidak hanya itu, pada akhir tahun 1988, seorang arkeolog bernama Ron Wyatt mengaku telah menemukan beberapa  bangkai roda kereta tempur kuno di dasar laut merah yang diduga sebagai bangkai kereta tentara fir’aun saat mengejar nabi Musa As. Bersama para pengikutnya.

Wyatt mengatakan selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, ia juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama. Temuan itu semakin memperkuat dugaan bahwa sisa-sisa tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka pasukan fir’aun yang tenggelam dilaut merah.

Kebenaran bahwa kereta tersebut merupakan bekas tereta fir’aun semakin terbukti setelah dilakukannya pengujian di Stockholm University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan. Dan hasil pengujian diketahui bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam. Menurut catatan sejarah kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.

Penemuan lainnya yang  cukup menarik ialah ditemukannya poros roda salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang. Sehingga, untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. Selain itu, ditemukan pula sebuah roda dengan empat buah biji jeruji yang terbuat dari emas. Besar kemungkinan, ini sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi fir’aun.

semoga dari kisah dan pembuktian tentang fakta dibalik kisah Fir’aun ini dapat memerikan pelajaran dan menguatkan keyakinan kita terhadap azab Allah Swt. Semoga kita senantiasa terhindar dari azab Allah Swt. Aamiin.

Read More