Istibtha’ Berujung Riba !!

Share

Kali ini kita berbagi Tentang pengalaman meminjam uang di salah satu bank berlabel syariah. Dari sekian banyaknya orang berhutang ke bank syariah. Mereka banyak yang menyesal, | Istibtha’ Berujung Riba !!

Semoga dengan membaca artikel ini tidak ada lagi yang terzalimi dan tertipu akibat oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan membawa nama ‘syariah’.

riba di Bank Syariah yang transparan

Istibtha’, Penjerumus Menuju Riba

Pada waktu itu (bisa di sebut saja fulan ) terobsesi untuk membuat sebuah usaha restoran yang sebenarnya tidak menjamin keberhasilan. Padahal hidupnya saat itu bercukupan dengan gaji yang relatif besar 20 juta. Namun apa daya, saat itu hawa nafsu menguasai jiwa.

Modal untuk memulai usaha itu lumayan banyak, bisa di bilang sangat amat banyak sehingga harus meminjam uang sebesar kurang lebih 1 milyar rupiah ke bank.

Untuk menjauhi riba fulan memilih bank berlabel syariah yang katanya bebas dari praktek praktek melanggar syariat. Tapi pada akhirnya sama, mendzalimi sebelah pihak menguntungkan pihak lainnya.

1 Milyar bukan jumlah yang sedikit, tapi sangat super duper banyak. Pasangan hidup si fulan sempat menolak dan melarang. Namun setelah diberi tahu keuntungan dan hasilnya ia akhirnya setuju. Kesalahan waktu itu, namun tidak memberitahukan akibat dampak buruk apabila usaha tidak mencapai target.

Harta membuat buta. Rakus terhadap harta yang fana. Benar, apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَاب

Andai manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, mereka akan mencari lembah emas yang kedua. Andai dia diberi 2 lembah penuh emas, mereka akan mencari lembah ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut manusia, kecuali tanah. (HR. Bukhari 6438 & Muslim 1462)

Fulan terjerat penyakit istibtha, penyakit yang membuat terobsesi memperbesar usaha sebelum waktunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian memiliki penyakit istibtha’ dalam masalah rizki. (HR. Baihaqi)

Beberapa waktu kemudian setelah uangnya cair, dibelilah aset aset yang dibutuhkan seperti bangunan bangku dan alat alat masak.

Riba yang Transparan

Qadarullah, usaha yang di bangun tidak mencapai target yang diimpikan. Penghasilan dari restoran tidak mengimbangi utang yang harus dibayar ke bank. Belum membayar bagi hasil, yang sebenarnya pengalihan kata dari riba, riba yang transparan.

Kekayaan, umur, dan popularitas itu seperti minum dari air lautan yang asin. Semakin kau minum, semakin haus yang kamu dapatkan

Syekh Ahmad Musa Jibril

Disisi lain, bank tempat dia meminjam tidak mau tau tentang kerugian yang dialami, tapi wajib mengembalikan pinjaman. Bank jenis apapun tidak akan hadir membantu dalam kondisi terpuruk. mereka cendrung akan datang saat kita lagi naik naiknya.

Mereka mengicar para pengidap istibtha’. Allah telah mengingatkan sebelum kita serakah meraup dunia lebih buanyak lagi, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Karena itu, janganlah kalian tertipu dengan kehidupan dunia. (QS. Fathir: 5)

Rakus terhadap rizki yang sudah dijatah setiap orang oleh Allah SWT. Serajin rajinnya kita berusaha, sehebat apapun kita bekerja rizki tidak akan melebihi jatah dari sang Maha Pemberi Rizki.

Baca juga Marginal, ada margin baru kenal, kerja bukan hanya tentang uang.

semoga dengan berbagi renungan ini, tidak ada lagi yang terlalu serakah dalam urusan harta dunia sehingga terjerumus kedalam jebakan riba

Wallahu A’lam

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *